Jenis Kain Ulos

Jenis Kain Ulos

Sumatera Utara menjadi daerah yang terkenal dengan pengrajin jenis kain ulos secara turun-temurun. Untuk pembuatan kain ulos sendiri ini tidak menggunakan mesin, melainkan menggunakan alat tenun.

Seiring perkembangan produk dari kain ulos sendiri yang pada awalnya hanya digunakan sebagai selendang dan sarung, sekarang sudah banyak dijumpai di berbagai produk seperti souvenir, pakaian, ikat pinggang, dasi, bahkan gorden dan sarung bantal.

Karena ulos sudah menjadi busana turun-temurun khas Batak, konon dalam adat istiadat Batak kain ini tidak bisa sembarangan asal dipakai.

Tetapi harus sesuai dengan momen kehidupan yang di alami seperti dari mulai lahir, hidup, menikah, hingga meninggal ada yang menjadi khasnya.

Kain ulos memiliki tampilan yang bervariasi di mana warna dominan seperti hitam, merah, kuning, putih, serta hiasan benang dengan warna perak atau emas.

Jenis-Jenis Kain Ulos yang Penuh Makna

Jenis Kain Ulos

Kain ulos ternyata dipercaya oleh masyarakat Batak, Sumatera Utara sendiri karena memiliki makna dan filosofi yang mendalam bagi kehidupan manusia. Berikut ini adalah beberapa jenis ulos beserta maknanya:

1. Kain Ulos Pinuncaan

Kain Ulos Pinuncaan merupakan kain ulos besar atau disebut juga induk dari ulos. Kain ulos ini memiliki lima bagian tenun yang terpisah kemudian disatukan dengan rapi sehingga membentuk ulos.

Ulos Pinuncaan biasa dipakai oleh raja-raja di berbagai acara adat sukacita maupun dukacita. Untuk acara seperti pesta perkawinan atau upacara adat biasanya kain ulos ini dipakai oleh rakyat biasa yang menjadi Tuan rumah.

Cara pemakaiannya yaitu dililitkan sebagai kain oleh keluarga hasuhuton (Tuan rumah) pada saat pesta besar dalam acara marpaniaran.

Fungsi dari kain ini adalah sebagai Ulos Passamot dalam acara pernikahan, dimana kain ulos ini akan diberikan oleh orang tua dari pengantin perempuan kepada orang tua dari pihak pengantin pria.

Hal ini dijadikan sebagai salah satu simbol bahwa mereka sudah resmi menjadi saudara dekat.

2. Kain Ulos Ragi Hidup

Kain Ulos Ragidup atau ulos ragi hidup secara umum terdiri atas tiga bagian yaitu dua sisi yang ditenun sekaligus, dan satu bagian tengah yang ditenun dengan sangat rumit.

Setiap rumah tangga di daerah suku Batak yang masih kental dengan adat batak nya pasti memiliki kain Ulos Ragidup. Ulos Ragidup sendiri memiliki makna pentingnya kehidupan dan kebahagiaan yang perlu dicapai.

Baca Juga: Jenis Kain Moscrepe

3. Kain Ulos Ragi Hotang

Ragi Hotang diartikan sebagai Ulos Kecil atau Ragi yang Kuat. Kain ini termasuk ulos yang memiliki derajat tinggi. Untuk pembuatannya pun tidak sesulit pembuatan Ulos Ragidup.

Ulos Ragi Hotang biasanya digunakan dalam saat upacara pernikahan di mana diberikan oleh pihak orang tua mempelai perempuan kepada menantu laki-lakinya.

Ulos Ragi Hotang atau disebut sebagai Ulos Hela yang artinya bahwa orang tua dari pihak perempuan sudah menyetujui putrinya untuk dipersunting oleh laki-laki yang disebut menantu.

Dalam pemberiannya kain Ulos Hotang ini selalu disertai sarung menantu atau Manar Hela untuk menunjukkan bahwa pihak laki-laki tersebut tidak diperbolehkan untuk berperilaku seperti laki-laki lajang, tapi harus berperilaku dewasa layaknya sebagai orang tua.

Maka dari itu setiap kegiatan adat sarung tersebut harus terus dikenakan.

4. Kain Ulos Sibolang

Dari segi pembuatannya kain Ulos Sibolang ini merupakan yang cukup terbilang sederhana. Akan tetapi kain ini masih tergolong kain yang derajatnya cukup tinggi. Ulos Sibolang pada umumnya adalah kain ulos berwarna-warni atau belang.

Biasanya kain ulos ini digunakan saat menghadiri acara duka cita yaitu sebagai tanda untuk menghargai orang dewasa yang telah meninggal tapi belum memiliki cucu.

Sedangkan dikenakan sebagai Ulos Tujung dimana ditujukan pada istri yang ditinggal mati suaminya tau pada laki-laki yang ditinggal mati istrinya.

Dengan kata lain Ulos Sibolang yaitu sebagai simbol bahwa orang yang bersangkutan merupakan keluarga dekat dari orang yang telah meninggal.

5. Kain Ulos Sitolu Tuho

Kain Ulos Sitolu Tuho ini merupakan ulos dengan tiga garis atau tiga cabang. Tuho sendiri memiliki arti cabang pohon.

Makna dari Ulos Sitolu tuho ini yaitu memberi gambaran sebagai simbol kekerabatan bagi orang Batak. Biasanya ulos ini dipakai sebagai ikat kepala atau selendang.

6. Kain Ulos Mangiring

Ulos Mangiring memiliki corak yang beriringan, dimana hal itulah melambangkan kesuburan dan kekompakan.

Kain ulos ini biasanya diberikan oleh orang dewasa kepada anak yang baru lahir, terutama pada anak pertama.

Hal ini bertujuan agar anak tersebut memiliki keinginan dan diiringi dengan kelahiran anak seterusnya. Tapi kain ulos ini juga sering digunakan sebagai tali-tali seperti tutup kepala kaum pria dan saong atau tutup kepala wanita.

7. Kain Ulos Bintang Maratur

Ulos Bintang Maratur atau disebut juga Ulos Besar atau Bintang teratur ini memiliki motif bergaris yang menggambarkan jajaran burung atau bintang yang tersusun secara rapi.

Makna dari motif tersebut adalah sebagai perlambang sikap patuh, rukun dan kekeluargaan termasuk dalam hal kekuasaan maupun kekayaan.

Kain ulos ini biasa diberikan kepada anak yang memasuki rumah baru atau selamatan kehamilan tujuh bulanan, yaitu dalam acara adat Batak Toba.

Harapannya yaitu dalam sebuah keluarga akan ada kelahiran anak-anak lainnya setelah anak pertama.

8. Kain Ulos Bolean

Kain Ulos Bolean biasanya digunakan sebagai selendang pada saat menghadiri acara duka. Kain ulos ini diberikan kepada anak yang kehilangan orangtuanya, hal ini bertujuan untuk menghilangkan rasa duka agar akan yang kehilangan tersebut bisa sabar dan tabah dalam menghadapinya.

Uniknya kain Ulos Bolean tidak akan luntur meskipun sudah berkali-kali dicuci.

Jenis kain ulos yang memiliki berbagai macam keunikan di setiap motif, gambar atau bahkan tenun nya. Meskipun kental dengan berbagai adat di suku Batak, menjadikan salah satu kebudayaan bangsa Indonesia yang patut dikagumi.

Hal ini membuktikan bahwa Indonesia memiliki suatu kebudayaan yang sangat menarik dan perlu dilestarikan.

Baik oleh masyarakat suku Batak itu sendiri maupun oleh masyarakat lainnya tanpa menghilangkan ciri khas asal daerahnya.

Leave a Reply